Monday, September 14, 2009

Damm

Saya kaget hari ini Damm tidak kuliah. Saya bertanya pada mahasiswa disebalah saya.
“Saya tidak melihat Damm dikelas Mbe..”
“Hari ini dia pulang kampung”
Saya berbelok arah menuju kosannya saat berjalan pulang kekosan saya sendiri, niatnya ingin meredakan kaget saya yang berlebihan. Penuh harap dia masih dikamar, dan ternyata memang benar. Saya menanyakan perihal tadi.
“Peking…”
Mata saya memelototi bawaannya yang hanya daypack ukuran dua puluh lima liter.
“Malas…”
Haha… Baru kali ini bintang kelas itu berkata malas kuliah dan benar-benar tidak masuk kelas, apalagi hari ini kelasnya Rocky Gerung. Saat itu jam satu, dia berniat berangkat menuju terminal bis jam dua nanti. Disela waktu itu dia meminta saya tetap dikamarnya sambil menikmati panasnya kota.
“Tadi Rocky berbaik hati Damm. Dia merasa sistem kurikulum kita teramat salah sehingga mahasiswa filsafat telah terlanjur menjadi konsumen pikiran. Kita terlalu konsumtif tapi sombong. Mengira telah mengerti filsafat hanya dengan menghapal arti corgito ergo sum. Sering salah kaprah dan akibatnya adalah pemborosan disegala hal. Lalu dia menarik semua persoalan hingga hal yang mendasar. Bahkan perihal objek kajian formal dan material dari filsafat. Dia berharap kita bisa menjadi produsen argument, produsen pemikiran. A new kind of though. Haha…saya malu Damm. Harusnya mahasiswa juga peka terhadap situasi ini dan mau berbenah sendiri. Kurikulum memang salah, tapi seharusnya kesalahan tidak hanya ditimpalkan pada satu pihak bukan?”
Damm menjawab hanya dengan sepenggal kalimat,
“Kesalahan yang diberatkan pada satu sisi akan lebih mudah dibenahi, realistis aja…”
Ha? Patut direnungi...
Daypack dua puluh lima liter itu akhirnya diangkat. Kami berjalan beriringan menuju pertigaan jalan. Masing-masing tangan kami saling mengangkat tanda perpisahan. Langkah ketiga saya menoleh lagi. Tubuh kurus berambut gondrong keriting itu berjalan gontai. Perpisahan selalu meninggalkan rasa seperti habis terpukul di bagian dada. Saya benci itu. Lebih baik kita terpisah tanpa kita sadar. Namun sekali-sekali membiarkan rasa terpisah membucah boleh juga biar hidup ini terasa lebih lucu. Langkah kesepuluh saya tersadar bahwa seminggu ini saya akan menikmati hidangan busuk kurikulum filsafat tanpa Damm. Enak saja kamu main kabur… Semoga baunya masih tercium sampai Wonosobo!

1 comment:

  1. Wah mba anne tulisannya bagus. Ijin taro di blog ya :)

    ReplyDelete